Ketika ibu hamil dan ibu menyusui tidak berpuasa Ramadhan lantaran hambatan haruskah mengeluarkan duit fidyah atau pun mesti mengqadha puasa ramadhan sebanyak lamanya hari di bulan Ramadhan yang tidak dikerjakan.

Tentunya hal ini yakni ialah penggalan pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh para ibu-ibu hamil dan juga para ibu yang sedang menyusui di saat keharusan berpuasa di bulan Ramadhan serempak waktunya.

Para ulama sudah bertikai nasehat dalam hal dan juga mengenai permasalahan duduk kendala mengenai: "Apakah perempuan hamil dan menyusui kalau meninggalkan puasa lantaran udzur, mesti mengqodlo atau cukup mengeluarkan duit fidyah saja?"

Ibu hamil dan menyusui yakni dua macam ‘udzur dibolehkannya meninggalkan puasa. Namun, dia diwajibkan menggantinya. Ini yakni komitmen (ittifaq) para fuqaha (ahli fiqih) sejak dulu sampai hari ini.

Jika dia memiliki daya tahan badan yang kuat, dan tidak ketakutan terhadap kesehatan dirinya dan janinnya, maka dia boleh memilih, Puasa Ramadhan Bagi Ibu Hamil atau tidak berpuasa. Keduanya dibenarkan, tetapi puasa lebih afdhal, lantaran tubuhnya memiliki pengaruh tadi.

Ketika ibu hamil dan ibu menyusui tidak berpuasa Ramadhan lantaran hambatan haruskah mem Fidyah Qadha Ibu Hamil Dan Menyusui Yang Tidak Berpuasa Ramadhan

Qadha Puasa Ramadhan


Qadha yakni ialah mengubah puasa di hari selain Ramadhan lantaran dia masih bisa untuk berpuasa di hari lain tersebut. Hal ini menyerupai diibaratkan menyerupai halnya orang yang boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Seperti halnya orang musafir, orang sakit yang masih punya kesempatan sembuh, hamil dan menyusui, pekerja keras, orang yang perang, dipaksa/diancam untuk tidak puasa. Baca lebih lanjut dalam informasi berikut ini : Orang Yang Boleh Tidak Berpuasa.

Berhubung tidak ada nash sharih (yang jelas) dalam kendala ini maka banyak perbedaan nasehat soal apakah perempuan hamil (menyusui) di saat tidak berpuasa wajib meng-qadha atau mengeluarkan duit fidyah atau keduanya qadha dan fidyah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

"(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kau ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) mengeluarkan duit fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati melakukan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu kalau kau mengetahui" (QS Al Baqarah 184)

Berikut nasehat ulama terkait dengan duduk kendala qadha dan fidyah ibu hamil dan ibu menyusui.

Pendapat yang pertama yakni bahwa wajib QADHA bagi perempuan hamil atau menyusui. Dasar pendapatnya yakni meng-qiyas-kan perempuan hamil atau menyusui dengan orang sakit.

Orang sakit boleh tidak puasa dan mesti meng-qadha (mengganti) di hari lain sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah 184 di atas (barangsiapa diantara kau ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain).

Membayar Fidyah


Yang dimaksud dengan pemahaman definisi fidyah yakni mengubah puasa bagi orang yang sudah tidak dapat lagi berpuasa dengan menampilkan masakan pokok yang bikin kenyang terhadap orang miskin, sebanyak jumlah hari yang dia tinggalkan.

Dalam hal ini dicontohkan menyerupai halnya sakit menahun yang tipis kemungkinan sembuh, orang yang sungguh tua, orang yang senantiasa bergelut dengan pekerja keras tiap hari. Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, ibu hamil dan menyusui tergolong golongan ini.

Ketika ibu hamil dan ibu menyusui tidak berpuasa Ramadhan lantaran hambatan haruskah mem Fidyah Qadha Ibu Hamil Dan Menyusui Yang Tidak Berpuasa Ramadhan

Makara terkait dengan hal tersebut nasehat kedua yakni bahwa wajib FIDYAH bagi perempuan hamil dan menyusui. Dasar pendapatnya yakni orang renta lanjut usia, perempuan hamil dan menyusui yakni tergolong golongan orang-orang yang berat menjalankannya sehingga wajib mengeluarkan duit fidyah sebagaimana disebutkan diatas.

Dan didalam surat Al Baqarah 184 di atas (wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) mengeluarkan duit fidyah). Serta Ibnu Abbas, ia berkata: "fidyah tersebut ditetapkan bagi orang yang hamil dan yang menyusui" (HR Abu Daud).

Berikut ini beberapa hukum mengeluarkan duit fidyah atau mengqada puasa ramadhan bagi ibu hamil dan menyusui menyerupai informasi yang dilansir dari situs web dakwatuna.com dengan judul pemberitaan "Ibu Hamil dan Menyusui Berhalangan Puasa, Fidyah atau Qadha?"

khusus ibu hamil dan menyusui, kalau kita menyaksikan keseluruhan persepsi ulama yang ada, bisa kita ringkas menyerupai yang dibilang Imam Ibnu Katsir bahwa ada empat pandangan/pendapat ulama terkait dengan fidyah dan qadha antara lain yakni selaku berikut :
  1. Kelompok ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah sekaligus. Ini yakni persepsi Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i. Dilakukan kalau Si Ibu mengkhawatiri keamanan janin atau bayinya.
  2. Kelompok ulama yang mewajibkan fidyah saja, tanpa qadha. Inilah persepsi beberapa teman dekat Nabi, menyerupai Abdullah bin ‘Abbas, dan Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma. Dari kelompok tabi’in (murid-murid para sahabat) yakni Said bin Jubeir,[2] Mujahid, dan lainnya. Kalangan tabi’ut tabi’in (murid para tabi’in) menyerupai al-Qasim bin Muhammad dan Ibrahim an-Nakha’i. Imam Daruquthni meriwayatkan dengan sanad yang shahih, Ibnu ‘Abbas pernah berkata terhadap hamba sahayanya yang sedang hamil, “Kau sama dengan orang yang menyibukkan berpuasa, maka bayarlah fidyah dan tidak usah qadha.” Nafi’ bercerita bahwa Ibnu Umar ditanya mengenai perempuan hamil yang ketakutan keamanan anaknya kalau ia berpuasa. Dia menjawab, “Hendaknya dia berbuka. Sebagai gantinya, hendaklah dia memberi masakan terhadap seorang miskin sebanyak satu mud gandum.” (Riwayat Malik )
  3. Kelompok ulama yang mewajibkan qadha saja, tanpa fidyah. Inilah nasehat jumhur (mayoritas) ulama. Seperti madzhab Hanafi, Abu Ubaid, dan Abu Tsaur. Sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal ikut nasehat ini, kalau sebabnya lantaran mengkhawatiri keamanan Si Ibu, atau keamanan Ibu dan janin (bayi) sekaligus.
  4. Kelompok ulama yang menyampaikan tidak qadha, tidak pula fidyah.
Dalam kitab Taisiru Fiqh (Fiqhus Siyam) menampilkan jalan keluar dan kompromi yang cantik terkait dengan permasalahan semacam ini. Beliau Al-‘Allamah Syaikh Yusuf al-Qaradhawy hafizhahullah berkata :
  • Banyak ibu-ibu hamil bertepatan bulan Ramadhan, ialah rahmat dari Allah bagi mereka, kalau tidak dibebani keharusan qadha, tetapi cukup dengan fidyah. Di samping hal ini ialah kebaikan untuk faqir dan miskin dan orang-orang yang memerlukan sumbangan materi.
  • Namun bagi ibu-ibu yang masa melahirkannya jarang, sebagaimana biasanya ibu-ibu di masa kita di sekarang ini dan di sebagian besar negara Islam, tertutama di kota-kota, sering kali cuma mengalami dua kali hamil dan dua kali menyusui selama hidupnya. Maka, bagi mereka lebih sempurna nasehat jumhur, yakni qadha (bukan fidyah).”
Cara Membayar Fidyah

Dalam beberapa riwayat dari Ibnu Umar disebutkan bahwa fidyah puasa Ramadhan dibayarkan dengan 1 mudd (segenggam sarat tangan orang dewasa) burr (gandum terbaik). Sedangkan dalam riwayat Ibnu Abbas yakni 1/2 sha' = 2 mudd gandum. Berhubung tak ada nash juga dalam kendala ini maka banyak yang menegaskan nasehat Ibnu Abbas, yakni 1/2 sha' bentuk materi masakan menurut wilayahnya masing-masing atau 1 1/2 kg masakan pokok (beras misalnya).

Dan tidak boleh diganti dalam bentuk uang lantaran dalil yang ada dalam ayat menampilkan dalam bentuk masakan dan bukan uang, "... dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) mengeluarkan duit fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin ..." (QS Al Baqarah 184)

Fidyah ini boleh dibayarkan sekaligus atau dibayarkan setiap harinya terhadap orang miskin, dengan syarat mesti sudah melewati/melalui hari di mana tidak berpuasa.

Dalam suatu riwayat dari Ayyub, ia berkata: "Anas bin Malik rahimahullah di saat sudah renta dan tak bisa puasa ia mengeluarkan duit dengan cara memanggil 30 orang miskin untuk satu kali makan di rumahnya, dan itu yakni pembayaran untuk 30 hari tidak puasa" (HR Ad Daruquthni/2415)